Apartemen di Orchard. ©CapitaLand Singapore
Apa yang terlintas di benak anda ketika
mendengar istilah apartemen? Mungkin tak sedikit yang menjawab apartemen
adalah sebuah hunian yang mewah dengan kehidupan eksklusif orang-orang
di dalamnya.
Tak sedikit pula apartemen diidentikkan dengan sebuah hunian yang individualis, tingkat privasi tinggi sehingga tak perlu bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri. Saling sapa saja tidak pernah, apalagi saling berkunjung. Apa iya demikian?
Dhani (32), salah seorang penghuni Apartemen Kalibata mengamini fenomena di atas. Namun menurutnya tidak semua benar. Penghuni apartemen bisa saja melakukan sosialisasi antara sesama penghuni. Selain berhubungan secara langsung, teknologi juga bisa dijadikan sarana 'silaturrahmi'
"Kakak saya sering rapat dengan sesama warga penghuni apartemen dengan memanfaatkan grup whatsapp," ujar wanita asal Yogyakarta ini kepada merdeka.com belum lama ini.
Dhani mengakui memang dirinya jarang bergaul dengan sesama penghuni apartemen lantaran kesibukannya sebagai seorang karyawati yang setiap hari kerja pagi pulang malam. Namun baginya tak mustahil saling menyapa antara sesama penghuni apartemen. Apalagi di apartemen yang dia tinggali, ada beberapa fasilitas umum yang biasa dimanfaatkan oleh para penghuni untuk bersosialisasi.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang penghuni apartemen di daerah Jakarta Selatan, Yasin. Menurut Yasin, meski tinggal di apartemen, tidak mengurangi niatnya untuk saling berketuk pintu menyapa para penghuni apartemen lainnya.
"Saya pernah berkunjung ke kamar tetangga apartemen saya," ujar pria berjenggot ini kepada merdeka.com.
Seperti halnya Dhani, Yasin juga mengaku memiliki grup whatsapp antara penghuni apartemen lainnya, untuk sekadar saling bertegur sapa, atau bahkan mendiskusikan hal-hal penting lainnya yang menyangkut kepentingan bersama.
"Misalnya soal parkir. Kita sering mendiskusikannya, lantaran kita menghadapi perbedaan persepsi antara pengelola dan penghuni apartemen," ujarnya.
Dengan memanfaatkan grup whatsapp tersebutlah, akhirnya para penghuni apartemen menggalang kebersamaan, hingga akhirnya beraudiensi dengan pengelola apartemen. Meski solusi terbaik belum didapatkan, namun setidaknya terjadi komunikasi dua arah antara pengelola dan penghuni apartemen.

Apartemen di Orchard CapitaLand Singapore
Reputasi pengembang
Berbagai persoalan yang biasa dihadapi oleh para penghuni apartemen diantaranya masalah fasilitas, terutama yang menyangkut fasilitas publik. Padahal, fasilitas publik yang ada di apartemen sangat penting karena menjadi sarana interaksi sesama penghuni. Sehingga wajar, penghuni kerap bermasalah dengan pengelola lantaran fasilitas yang didapatkan tidak sesuai dengan dulu yang dijanjikan.
Pengembang harusnya memang menyediakan fasilitas yang memanjakan para penghuni. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh CairnHill Nine, sebuah apartemen yang berbasis di negeri tetangga, Singapura. CairnHill Nine mengusung filosofi Building People Building Community.
Tak cuma membangun hunian bertingkat, CairnHill Nine juga konsen dengan hubungan yang harmonis antar penghuni apartemen.
CairnHill Nine dibangun oleh pengembang CapitaLand Singapore Limited di kawasan Orchard Road Singapura. Ada 268 apartemen yang ditawarkan dengan berbagai tipe.
Harganya mulai dari SG$ 1,35 juta atau Rp 13,17 miliar hingga yang termahal seharga SG$ 6,67 juta atau Rp 65 miliar dengan kurs 1 SG$ setara Rp 9.757. Meski harganya selangit, namun tak menyurutkan Warga Negara Indonesia (WNI) untuk membeli.
"Dari 100% yang mengincar, 50% dari Singapura dan sisanya yang terbesar dari Indonesia. Mungkin karena apartemen ini berada di Orchard, tempat yang sangat terkenal oleh orang Indonesia," kata Tim Komunikasi CapitaLand Singapore di Area Show Gallery of CairnHill Nine, Singapura, beberapa waktu lalu.

Apartemen di Orchard. CapitaLand Singapore
Menurut mereka, apartemen tersebut berada di lokasi yang strategis dari jaringan kereta bawah tanah atau MRT, yang juga sangat dekat dengan pusat perbelanjaan kelas atas Orchard Road seperti ION Orchard, Paragon, Ngee Ann City Shopping Centre, Takashimaya.
"Mungkin itu juga yang membuat konsumen dari Indonesia sangat tertarik," jelas dia.
Jika semua pengembang memberikan fasilitas yang prima terhadap para penghuni, terutama ruang-ruang publik untuk berinteraksi, maka tak menutup kemungkinan, hidup guyub yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Indonesia akan terus terpelihara meski kita tinggal di hunian bertingkat.
Tak sedikit pula apartemen diidentikkan dengan sebuah hunian yang individualis, tingkat privasi tinggi sehingga tak perlu bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri. Saling sapa saja tidak pernah, apalagi saling berkunjung. Apa iya demikian?
Dhani (32), salah seorang penghuni Apartemen Kalibata mengamini fenomena di atas. Namun menurutnya tidak semua benar. Penghuni apartemen bisa saja melakukan sosialisasi antara sesama penghuni. Selain berhubungan secara langsung, teknologi juga bisa dijadikan sarana 'silaturrahmi'
"Kakak saya sering rapat dengan sesama warga penghuni apartemen dengan memanfaatkan grup whatsapp," ujar wanita asal Yogyakarta ini kepada merdeka.com belum lama ini.
Dhani mengakui memang dirinya jarang bergaul dengan sesama penghuni apartemen lantaran kesibukannya sebagai seorang karyawati yang setiap hari kerja pagi pulang malam. Namun baginya tak mustahil saling menyapa antara sesama penghuni apartemen. Apalagi di apartemen yang dia tinggali, ada beberapa fasilitas umum yang biasa dimanfaatkan oleh para penghuni untuk bersosialisasi.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang penghuni apartemen di daerah Jakarta Selatan, Yasin. Menurut Yasin, meski tinggal di apartemen, tidak mengurangi niatnya untuk saling berketuk pintu menyapa para penghuni apartemen lainnya.
"Saya pernah berkunjung ke kamar tetangga apartemen saya," ujar pria berjenggot ini kepada merdeka.com.
Seperti halnya Dhani, Yasin juga mengaku memiliki grup whatsapp antara penghuni apartemen lainnya, untuk sekadar saling bertegur sapa, atau bahkan mendiskusikan hal-hal penting lainnya yang menyangkut kepentingan bersama.
"Misalnya soal parkir. Kita sering mendiskusikannya, lantaran kita menghadapi perbedaan persepsi antara pengelola dan penghuni apartemen," ujarnya.
Dengan memanfaatkan grup whatsapp tersebutlah, akhirnya para penghuni apartemen menggalang kebersamaan, hingga akhirnya beraudiensi dengan pengelola apartemen. Meski solusi terbaik belum didapatkan, namun setidaknya terjadi komunikasi dua arah antara pengelola dan penghuni apartemen.
Apartemen di Orchard CapitaLand Singapore
Reputasi pengembang
Berbagai persoalan yang biasa dihadapi oleh para penghuni apartemen diantaranya masalah fasilitas, terutama yang menyangkut fasilitas publik. Padahal, fasilitas publik yang ada di apartemen sangat penting karena menjadi sarana interaksi sesama penghuni. Sehingga wajar, penghuni kerap bermasalah dengan pengelola lantaran fasilitas yang didapatkan tidak sesuai dengan dulu yang dijanjikan.
Pengembang harusnya memang menyediakan fasilitas yang memanjakan para penghuni. Seperti halnya yang telah dilakukan oleh CairnHill Nine, sebuah apartemen yang berbasis di negeri tetangga, Singapura. CairnHill Nine mengusung filosofi Building People Building Community.
Tak cuma membangun hunian bertingkat, CairnHill Nine juga konsen dengan hubungan yang harmonis antar penghuni apartemen.
CairnHill Nine dibangun oleh pengembang CapitaLand Singapore Limited di kawasan Orchard Road Singapura. Ada 268 apartemen yang ditawarkan dengan berbagai tipe.
Harganya mulai dari SG$ 1,35 juta atau Rp 13,17 miliar hingga yang termahal seharga SG$ 6,67 juta atau Rp 65 miliar dengan kurs 1 SG$ setara Rp 9.757. Meski harganya selangit, namun tak menyurutkan Warga Negara Indonesia (WNI) untuk membeli.
"Dari 100% yang mengincar, 50% dari Singapura dan sisanya yang terbesar dari Indonesia. Mungkin karena apartemen ini berada di Orchard, tempat yang sangat terkenal oleh orang Indonesia," kata Tim Komunikasi CapitaLand Singapore di Area Show Gallery of CairnHill Nine, Singapura, beberapa waktu lalu.
Apartemen di Orchard. CapitaLand Singapore
Menurut mereka, apartemen tersebut berada di lokasi yang strategis dari jaringan kereta bawah tanah atau MRT, yang juga sangat dekat dengan pusat perbelanjaan kelas atas Orchard Road seperti ION Orchard, Paragon, Ngee Ann City Shopping Centre, Takashimaya.
"Mungkin itu juga yang membuat konsumen dari Indonesia sangat tertarik," jelas dia.
Jika semua pengembang memberikan fasilitas yang prima terhadap para penghuni, terutama ruang-ruang publik untuk berinteraksi, maka tak menutup kemungkinan, hidup guyub yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Indonesia akan terus terpelihara meski kita tinggal di hunian bertingkat.